Dengan
langkah lunglai Hamdan coba menyusun setiap lembaran ingatan tentang
kekasihnya, hingga terangkailah kisah masa lalunya. Dia menggerutu untuk setiap
penyesalannya tentang titian yang dijalaninya. Hingga dia terlelap diperaduan
pulau kapuk.
Saat sang fajar mulai menampakkan
diri dan ayam mulai menggonggong(anjing kali mengonggong hehehe). Hamdan bangun
dan mulai menyiapkan dokumen dan proposal penelitiannya. Ya...dia akan ujian proposal
dikampusnya. Dengan rasa cemas yang menghinggapinya sungguh Nampak dari
wajahnya yang pucat (mirip vampire) seolah-olah dia akan menghadapi eksekusi hukum
mati. Bukan karena tanpa sebab, tapi dari cerita seniornya yang telah selesai. Pengujinya
itu sangatlah ganas, punya hawa pembunuh, sering makan korban (Nah loh...sadis
bangetkan). Ya sesampainya dikampus dia mencoba menenangkan diri, tapi sialnya
bukannya tenang malah semakin was-was karena ulah dari kawan-kawannya yang
super jahil. Sambil menanti giliran ujian, hamdan mulai membaca semua doa-doa(macam
dukun beranak lagi bantu persalinan hehehehe) biar pengujinya gak banyak tanya saat
ujian.
Jam sudah menunjukkan pukul
14.00, Yah...tiba giliran hamdan untuk memaparkan usulan proposalnya. Dengan canggung
dan bermodal espresi lugunya (wajah alay sahabat dahsyat) dia membaca setiap
slide yang dia tampilkan. Seusai memaparkan, hamdan duduk dengan tegang
(ettss...Cuma mimiknya loh ya yang tegang, jangan pikir macem-macem) menanti
koreksi dari pengujianya.
‘’ Hamdan, alasanmu meneliti
judul ini dan memilih tempat ini untuk meneliti apa?’’ ucap pembimbingnya
dengan tatapan penuh dendam dan dibumbui sedikit senyum liciknya.
Hamdan menarik nafas dalam dan
menghembusnya...Huuuuffffff. Dan mulai menjawab dengan gaya sok Cool ‘’Jadi menurut buku metodologi yang ditulis
oleh sugiyono, bahwa peneliti harus memperhatika..bla...bla..bla...Begitu pak’’
‘’ya...lumayan (seakan
mempersiapkan serangan yang lebih kuat untuk selanjutnya). Ok, di bagian
kerangka konsep bapak liat ada variabel pembanding, jika judulmu seperti ini
mestinya tak menggunakan variable ini. Coba jelaskan alasanmu menggunakan variable
ini?’’
Mendapat pertanyaan itu, hamdan
seolah dilempari Bom dari pengujinya. Saat itu hamdan merasa terdesak (Seperti
lagi perang ya). Dia tunduk dan diam untuk sesaat. Sementara dosen penguji
tertawa bagaikan penjahat yang hamper memenangkan perang.
Tiba-tiba disaat hamdan mulai hampir
menyerah, muncul pasukan tambahan dengan membawa Tank. Dia mendongak dan
melihat dosen pembimbingnyalah yang datang. Saat itu dosen pembimbing hamdan
mulai menjelaskan dan meluruskan pertanyaan dari dosen penguji.
Hamdan terbangun dari
keterpurukannya (Padahal Cuma gak bisa jawab 1 pertanyaan doing -_-) dia mulai
menjawab pertanyaan itu ‘’ jadi pak, suatu penelitian dalam bentuk eksperimen
murni mesti menggunakan variabel kontrol sehingga jelas perbedaan dari
bla..bla...bla’’. setelah menjawab pertanyaan itu hamdan serasa sedang klimaks
(menjijikkan -_-)
Berbeda dengan kondisi dosen
pengujinya yang seolah mendapat serangan jantung. Dengan bantuan dosen
pembimbingnya dia menyeimbangkan keadaan bahkan hampir membalikkan.
Tok...tok...tok...Dosen lain
masuk dan memberitaukan bahwa waktunya hampir habis. Mendengar itu moderator
menutup perang, eh maksudnya ujian itu. Hamdan bersorak riang di dalam hatinya.
Tapi dosen pengujinya menatap penuh kesal. Saat hamdan dan pengujinya
berpapasan didekat pintu keluar ruangan, pengujinya berkata ‘’Ini belum
berakhir, tunggu seranganku yang lebih dahsyat lagi’’(Ini entah ujian atau
perang sesungguhnya ya -_-)...
Bersambung
...






0 komentar:
Posting Komentar