Rabu, 16 Juli 2014

''Muka itu Didandani Bukan Diedit biar Cantik''

Disuatu pagi yang mendung, Hamdan bersiap untuk bertemu cewek yang baru dikenal melalui Facebook. Dia mencoba tampil sempurna dengan baju kotak-kotak ala jokowi (biar kliatan merakyat), rambut diberikan minyak (minyak jelanta). Bulu ketek dibonding. pokoke mantaplah...
Dia begitu senang, karna cewek itu tampak cantik difoto (fotonya telah melewati filter camera 360, photoshop, dll). Setiba ditempat mereka janjian, hamdan duduk dengan tidak sabar. Dalam penantiannya itu tiba-tiba ada cewek yang menghampirinya mukanya Putih,pipinya merah, bibirnya pink, lehernya coklat, bajunya ungu,celana jins berwarna coklat dan memakai sandal bermerek "Swallow". Dalam hati, hamdan berucap "ini cewek atau rainbow cake". karena terlanjur dah bertemu hamdan merasa tidak enak hati jika langsung meninggalkannya.
"Hai, aku hamdan"
"iya, aku sinta" ucap cewek itu.
"jalan kejembatan itu yukkk.kita ngobrol disana" kata hamdan.
lalu cewek itu meng'iyakan ajakan hamdan.
Saat itu Hamdan merasa kesal karena merasa tertipu oleh cewek itu. Soalnya foto di fb nya mirip "Marshanda" ternyata aslinya "Masya Allah". Hamdan mencoba membuat cewek itu marah.
"Sinta,,,tau gak persamaan kamu dengan sampah?" tanya Hamdan.
"Enggak, emang apa?" kata Sinta.
"Persamaan Kamu dan sampah itu, sama-sama harus dibuang ketempatnya"kata Hamdan.
Dengan manja Sinta menjawab "Ih kamu so sweet banget sih".
Sesampainya dijembatan....
"katamu pemandangannya indah, kok hanya ada sampah disungai" protes sinta.
"ini kan cocok buatmu" kata hamdan.
"kok dari tadi kamu Gombal aku trus sih" ucap Sinta sambil tersipu malu.
Dalam hati hamdan ngedumel " ini cewek kok dari tadi dihina malah kesenangan, mungkin hinaanku belum ada apa-apanya dibanding hinaan yang dia terima selama ini. sampai-sampai dia menganggapnya pujian".
Setelah pulang dari sana hamdan langsung membuang kartu sim hpnya, fb sinta diblokir, dan hamdan bersujud syukur karna telah pulang dengan selamat setelah berjumpa Sinta serta melanjutkan sholat tobat karena menganggap tadi dia mendapat azab....

Senin, 16 Juni 2014

Perang Proposal

Dengan langkah lunglai Hamdan coba menyusun setiap lembaran ingatan tentang kekasihnya, hingga terangkailah kisah masa lalunya. Dia menggerutu untuk setiap penyesalannya tentang titian yang dijalaninya. Hingga dia terlelap diperaduan pulau kapuk.
                Saat sang fajar mulai menampakkan diri dan ayam mulai menggonggong(anjing kali mengonggong hehehe). Hamdan bangun dan mulai menyiapkan dokumen dan proposal penelitiannya. Ya...dia akan ujian proposal dikampusnya. Dengan rasa cemas yang menghinggapinya sungguh Nampak dari wajahnya yang pucat (mirip vampire) seolah-olah dia akan menghadapi eksekusi hukum mati. Bukan karena tanpa sebab, tapi dari cerita seniornya yang telah selesai. Pengujinya itu sangatlah ganas, punya hawa pembunuh, sering makan korban (Nah loh...sadis bangetkan). Ya sesampainya dikampus dia mencoba menenangkan diri, tapi sialnya bukannya tenang malah semakin was-was karena ulah dari kawan-kawannya yang super jahil. Sambil menanti giliran ujian, hamdan mulai membaca semua doa-doa(macam dukun beranak lagi bantu persalinan hehehehe) biar pengujinya gak banyak tanya saat ujian.
                Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, Yah...tiba giliran hamdan untuk memaparkan usulan proposalnya. Dengan canggung dan bermodal espresi lugunya (wajah alay sahabat dahsyat) dia membaca setiap slide yang dia tampilkan. Seusai memaparkan, hamdan duduk dengan tegang (ettss...Cuma mimiknya loh ya yang tegang, jangan pikir macem-macem) menanti koreksi dari pengujianya.
                ‘’ Hamdan, alasanmu meneliti judul ini dan memilih tempat ini untuk meneliti apa?’’ ucap pembimbingnya dengan tatapan penuh dendam dan dibumbui sedikit senyum liciknya.
                Hamdan menarik nafas dalam dan menghembusnya...Huuuuffffff. Dan mulai menjawab dengan gaya sok Cool  ‘’Jadi menurut buku metodologi yang ditulis oleh sugiyono, bahwa peneliti harus memperhatika..bla...bla..bla...Begitu pak’’
                ‘’ya...lumayan (seakan mempersiapkan serangan yang lebih kuat untuk selanjutnya). Ok, di bagian kerangka konsep bapak liat ada variabel pembanding, jika judulmu seperti ini mestinya tak menggunakan variable ini. Coba jelaskan alasanmu menggunakan variable ini?’’
                Mendapat pertanyaan itu, hamdan seolah dilempari Bom dari pengujinya. Saat itu hamdan merasa terdesak (Seperti lagi perang ya). Dia tunduk dan diam untuk sesaat. Sementara dosen penguji tertawa bagaikan penjahat yang hamper memenangkan perang.
                Tiba-tiba disaat hamdan mulai hampir menyerah, muncul pasukan tambahan dengan membawa Tank. Dia mendongak dan melihat dosen pembimbingnyalah yang datang. Saat itu dosen pembimbing hamdan mulai menjelaskan dan meluruskan pertanyaan dari dosen penguji.
                Hamdan terbangun dari keterpurukannya (Padahal Cuma gak bisa jawab 1 pertanyaan doing -_-) dia mulai menjawab pertanyaan itu ‘’ jadi pak, suatu penelitian dalam bentuk eksperimen murni mesti menggunakan variabel kontrol sehingga jelas perbedaan dari bla..bla...bla’’. setelah menjawab pertanyaan itu hamdan serasa sedang klimaks (menjijikkan -_-)
                Berbeda dengan kondisi dosen pengujinya yang seolah mendapat serangan jantung. Dengan bantuan dosen pembimbingnya dia menyeimbangkan keadaan bahkan hampir membalikkan.
                Tok...tok...tok...Dosen lain masuk dan memberitaukan bahwa waktunya hampir habis. Mendengar itu moderator menutup perang, eh maksudnya ujian itu. Hamdan bersorak riang di dalam hatinya. Tapi dosen pengujinya menatap penuh kesal. Saat hamdan dan pengujinya berpapasan didekat pintu keluar ruangan, pengujinya berkata ‘’Ini belum berakhir, tunggu seranganku yang lebih dahsyat lagi’’(Ini entah ujian atau perang sesungguhnya ya -_-)...
Bersambung ...

Jumat, 13 Juni 2014

Trans Studio








Belajar Dari Kebersamaan










SAYONARA

Api itu kini padam
Pintu yang selama ini terbuka,
Kini tertutup rapat
Tak ada yang tersisa
Hanya kehampaan
Tak ada lagi keindahan
Senyumpun terasa sulit
Akhir yang tragis dari sebuah cerita roman
Keceriaan hari-hariku kini tenggelam di ufuk senja
Pergilah...
Masukilah ruang yang kau harap
Dan berbahagialah disana

Minggu, 26 Januari 2014

Bersama Dalam Ketiadaan

Malam ini 
Satu per satu hujan jatuh membasahi bumi 
Hingga tak lagi kumelihat bulanku 
Entah bagaimana kabarnya malam ini 
Ku ditinggalkannya sendiri dalam sepi... 

Mengapa semua pergi meninggalkanku??? 
Tak terkecuali engkau, 
Yang meninggalkanku dalam harap 
Semua ini serasa membunuhku 
 Kau hancurkan istana cinta yang susah paya kita bangun 
Kau meninggalkanku begitu saja 
Masi kuingat janji yang dulu kita ikrarkan, 
 "Bersama Dalam Ketiadaan" 

Sungguh,,, 
Dulu ku tak ingin menangis karena wanita 
Dulu air mata ini sungguh berharga 
Tapi mengapa saat kuingat kepergianmu, 
Air mata ini menetes berderai 

Begitu perih mencintaimu 
Begitu sakit kumenyayangimu 
Tapi kutak bisa membunuh rasa ini 
Kucoba menepis semua bayangmu 
Namun ku tak perna bisa melekukannya 
Karna kau begitu istimewa di hatiku 
Kuhanya berharap sang waktu yang akan melahap habis kenangan kita 
Agar tak sekeping pun tersisah 
Walau itu berarti seumur hidupku

Jumat, 24 Januari 2014

Jangan Berhenti Berharap

Saat pagi menyapaku

Semilir angin pagi menerpaku

Menciptakan sensasi yang erotis 

Serasa tak ingin pergi dari peraduan 

Namun dunia telah menantiku

Berjuta mahluk berjiwa dan tak berperasaan sibuk mencariku 

Lelah rasanya,,,, 

Mengeluh pun serasa tak berguna

Ketika dihadapan gerbang pengharapan

Langkah yang awalnya serasa berat

Kini mulai ringan      

Seakan kumencapai klimaks

Semua nampak nikmat, 

Tapi untuk sesaat saja

Absudnya Kehidupan

Menyusuri seluk beluk kehidupan
Berjuta keanehanpun muncul
Seperti menggenggam bara api
Begitulah yang kurasa

Eksistensi kehidupan semakin tak kumengerti
Kesana kemari hanya membuat pusing

Di dimensi yang sama ada rasa
Di dimensi berbeda pun ada rasa

Hanya moralitas yang membuat semua terbatas
Menjama waktu ke waktu
Kehidupan semakin gila
Moral pun semakin tergerus zaman

Diatas dipan ku tersungkur
Memejamkan mata,berharap hanya mimpi
Bahwa dunia semakin absurd

Mencintai Tapi Tak Dicintai

Kuraba keheningan dalam keramaian
Kutatap waktu yang terus berlalu
Kupanjat hujan walau mustahil
Walau dunia menertawaiku
Kumasih duduk disudut jalan
Tempat pertama kumelihatmu

Menantimu
Menunggumu
Hingga habis waktuku

Mereka menganggapku gila
Namun,aku lebih gila dan bodoh jika melepaskanmu
Saat kumelihat senyummu
Aku hanyut terbawa khayalku
Tak peduli langit bumi menertawakanku
Karna kau telah mencuri hati dan bahagiaku

Kau tutupi aku dengan duniamu,
Dan akan kusempurnakan akhiratmu

Rabu, 22 Januari 2014

Tanpa Kata Menyerah

Sebuah benda bening keluar dari sudut matanya
Terduduk diatas hamparan impian  
Wajahnya meringis,entah kenapa 
Berontah seakan tertekan 
Menjerit,namun tak didengar 

Ternyata ada lobang 
Bukan disepatu atau pakainnya
Tapi ada lobang di hatinya 
Wajah lelahnya dipenuhi guratan 
Guratan pengorbanan atas nama impian 
Walau para binatang mencibirnya 
Tak sedikitpun ada kata menyerah 

Tapi kini dia terdiam dalam hening 
Tersandung kerikil yang menjatuhkannya 
Saat uang berbicara,semangatpun tak cukup untuk sebuah impian 
Menyalahkan diri atau nasib bukanlah jalan baginya 
Berusaha mungkin lebih baik,agar tak ada penyesalan

Kamis, 16 Januari 2014

Malaikat Tak Bersayap

Kutatap mata mereka yang berbinar

Sejuta kata tak mampu bercerita

Kasihmu…sayangmu…

selalu kau berikan padaku…

kau peras keringatmu…

Entah itu malam ataupun siang

tak peduli sang mentari membakar tubuh mu

tak peduli lumpur dan peluh membasahi tubuhmu

Kini kulitmu usang sudah

Badan yang dulu tegap kekar Kini mulai membungkuk...

Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih...

Tapi tak sedikitpun guritan lelah diwajahmu

Mereka cahaya hidupku

Mereka penolong dalam susahku

Dan mereka malaikat tak bersayap

Ya...Dia AYAH dan IBUku

ku tulis petuahmu dihatiku

Dengan tinta cahaya

Agar hati dan jiwa ini menderang

Ketika kegelapan dunia akan melahap

Waktu ini terus berjalan

Meski perlahan tapi pasti

Meninggalkan sebuah kisah yang pantas dikenang

Mencari Yang Terlupakan

Saat pagi menyongsong
Sang mentari memancarkan sinar kehidupan

Burung-burung bernyanyi dengan begitu indah

Aku yang terbangun dari tidur yang panjang,

Perlahan mebuka mata,

kupandangi sudut-sudut kamar dengan tatapan kosong
                        Aku terbujur dalam kekakuan,

Dengan hati terbelenggu dalam sepi...

Sudah banyak hari kulalui tanpa tujuan yang pasti

Semua  seakan hanyalah fatamorgana

Acap kali kumencari sebuah jawaban

Jawaban atas arti dari kehidupan ini

Yang kutemui hanyalah kekosongan

Dalam pencarianku...

Perlahan-lahan rasio menjauh, akalpun pergi tanpa pesan

Aku terdiam dalam ketakutan

Ketakuatan akan tersesat di negeri itu

Negeri dengan sejuta paradigma!!!

Aku kumpulkan kepingan  derita di setiap pencarianku

Kugenggam dan kurangkai menjadi harapan  yang sempat terkoyak

Oleh tajamnya duri kehidupan



Saat mentari mulai tenggelam, Sayap malam terbuka perlahan

Fikirku melayang menjelajah ruang dan waktu

Mencari yang terlupakan

Yang mendekap jiwa dan ragaku

Yang membimbingku meresapi sunyinya malam

Yang menuntunku memeluk kegelapan didalam mencari arti kehidupan

Hidup atau Mati

Sejenak kuterdiam dalam kepengapan hidup
Kubaringkan tubuhku diatas ilalang yang bergoyang

Semilir angin berhembus menerpaku

Menjama tubuhku yang berpeluh

Tak bertenaga...

Kenangan itu muncul dan menjabatku

Kusibak tirai harapku secara perlahan

Yang terlihat hanyalah kegagalan

Inikah waktunya menyerah,pikirku...

Sebatas Mimpi

Senyummu begitu indah saat itu
Lalu Kita berlari dihamparan pasir putih

Malam semakin larut,

Kita berdansa ditemani api unggun

Yang jemari-jemari lentikmu begitu nakal menggodaku

Dan gemuru ombak menjadi music pengiringnya

Oh...Senangnya hati ini saat bersamamu

Kuingin trus ada disampingmu

Menghabiskan seluruh sisa hidupku denganmu

Tapi kuterbangun dari tidur,

Semua hal indah tentang kita pun sirna

Ternyata ini hanya mimpi

Tentang aku dan kamu yang kucintai

Kuingin Terbang Bebas

Semua yang kubutuhkan adalah kebebasan...
Ada sangat banyak yang sepertiku...
Aku tidak sendiri...
Berjalan dalam mimpi,dengan penuh keheranan...
Melangkah dan tersandung
Aku tak merasa ragu,

ini hanya seperti matahari akan bersinar kembali...
Sekali duniaku menampakkan,,,

akan mengejutkan semua orang
Bukalah mata, lihat bagaimana aku berlari,

bagaimana aku berputar ke sisi yg lain...
Aku akan meluncur seperti burung...
Aku hanya ingin memiliki ribuan sayap untuk terbang,

Agar kulihat  luasnya langit dan menemukan DUNIAKU...

Terbanglah Bidadariku


Bidadariku...
Sejuta harapan kusemayangkan untukmu
Beribu cita kugantungkan karnamu...
Apa dirimu tak mengerti bagaimana perasaan ini padamu
Kusangka dirimulah yang mungkin akan menjadi pendampingmu kelak
Tapi semua tetap menjadi misteri bagiku...
Kugadaikan harga diriku,,,perasaanku,,,hanya untuk mendengar kata cinta darimu
Sekian lama kumenanti hati inipun lelah...
Hanya rasa sakit yang kudapat dari penantian itu...
Rasa sakit karna berharap padamu...
Rasa sakit karna merindumu...
Kulelah menanti jawaban darimu...
Karna hanya sinaran lampu orange yang kudapat...

kutak perna ingin melukaimu...

Namu sebaliknya hanya aku yang selalu terluka...
Kini harapanku,,,cintaku,,,perasaanku telah kututup dalam peti hatiku
agar tak kudapati kembali rasa sakit itu....
rasa sakit yang berkecamuk...

Bidadariku...
kepakkanlah sayapmu...
terbanglah...dan susuri alam semesta...
temukanlah CINTA yang kau dambakan...
kuikhlaskan kepergianmu...
Bahagiamu Bahagiaku...

Kurindu Engkau Ya Rasulullah

Ya Rasulullah Ya Habibullah
          Kerinduanku atasmu senantiasa membara
          Begitu dahsyatnya kehadiranmu direlung hati kami
          Diseluruh penjuru mata angin
          Perjuanganmu terus dibicarakan
Ya Rasulullah Ya habibullah
          Nafasku terseka dalam tangis
          Kala rinduku memuncak...
    Hanya dendangan sholawat yang menenangkanku
Ya Rasulullah Ya habibullah
     Ketika diri bersholawat diatas sajadah,
     Aku tersungkur di Mihrab rindu
     Mengingat Perjuanganmu, Ibarat Ranjau bertahta duri yang 
     mencengkram
Ya Rasulullah Ya habibullah
    Aku berdiri memandangi langit tanpa awan
    Kerinduan padamu semakin merasuk direlung hati ini
    Walau tak perna berjumpa
    Namun dihatiku, Engkau begitu dekat
    Karena engkau hidup dihati setiap orang mukmin
Ya Rasulullah Ya habibullah
    Bergetar hati ini, rindu berjumpa denganmu
    Ahlakmu yang begitu indah
    Ahlakmu yang begitu suci
    Hadirmu membawa cahaya dalam kegelapan
    Dirimu teladan setiap ummat
    Wahai Engkau Rasulullah