Minggu, 26 Januari 2014

Bersama Dalam Ketiadaan

Malam ini 
Satu per satu hujan jatuh membasahi bumi 
Hingga tak lagi kumelihat bulanku 
Entah bagaimana kabarnya malam ini 
Ku ditinggalkannya sendiri dalam sepi... 

Mengapa semua pergi meninggalkanku??? 
Tak terkecuali engkau, 
Yang meninggalkanku dalam harap 
Semua ini serasa membunuhku 
 Kau hancurkan istana cinta yang susah paya kita bangun 
Kau meninggalkanku begitu saja 
Masi kuingat janji yang dulu kita ikrarkan, 
 "Bersama Dalam Ketiadaan" 

Sungguh,,, 
Dulu ku tak ingin menangis karena wanita 
Dulu air mata ini sungguh berharga 
Tapi mengapa saat kuingat kepergianmu, 
Air mata ini menetes berderai 

Begitu perih mencintaimu 
Begitu sakit kumenyayangimu 
Tapi kutak bisa membunuh rasa ini 
Kucoba menepis semua bayangmu 
Namun ku tak perna bisa melekukannya 
Karna kau begitu istimewa di hatiku 
Kuhanya berharap sang waktu yang akan melahap habis kenangan kita 
Agar tak sekeping pun tersisah 
Walau itu berarti seumur hidupku

Jumat, 24 Januari 2014

Jangan Berhenti Berharap

Saat pagi menyapaku

Semilir angin pagi menerpaku

Menciptakan sensasi yang erotis 

Serasa tak ingin pergi dari peraduan 

Namun dunia telah menantiku

Berjuta mahluk berjiwa dan tak berperasaan sibuk mencariku 

Lelah rasanya,,,, 

Mengeluh pun serasa tak berguna

Ketika dihadapan gerbang pengharapan

Langkah yang awalnya serasa berat

Kini mulai ringan      

Seakan kumencapai klimaks

Semua nampak nikmat, 

Tapi untuk sesaat saja

Absudnya Kehidupan

Menyusuri seluk beluk kehidupan
Berjuta keanehanpun muncul
Seperti menggenggam bara api
Begitulah yang kurasa

Eksistensi kehidupan semakin tak kumengerti
Kesana kemari hanya membuat pusing

Di dimensi yang sama ada rasa
Di dimensi berbeda pun ada rasa

Hanya moralitas yang membuat semua terbatas
Menjama waktu ke waktu
Kehidupan semakin gila
Moral pun semakin tergerus zaman

Diatas dipan ku tersungkur
Memejamkan mata,berharap hanya mimpi
Bahwa dunia semakin absurd

Mencintai Tapi Tak Dicintai

Kuraba keheningan dalam keramaian
Kutatap waktu yang terus berlalu
Kupanjat hujan walau mustahil
Walau dunia menertawaiku
Kumasih duduk disudut jalan
Tempat pertama kumelihatmu

Menantimu
Menunggumu
Hingga habis waktuku

Mereka menganggapku gila
Namun,aku lebih gila dan bodoh jika melepaskanmu
Saat kumelihat senyummu
Aku hanyut terbawa khayalku
Tak peduli langit bumi menertawakanku
Karna kau telah mencuri hati dan bahagiaku

Kau tutupi aku dengan duniamu,
Dan akan kusempurnakan akhiratmu

Rabu, 22 Januari 2014

Tanpa Kata Menyerah

Sebuah benda bening keluar dari sudut matanya
Terduduk diatas hamparan impian  
Wajahnya meringis,entah kenapa 
Berontah seakan tertekan 
Menjerit,namun tak didengar 

Ternyata ada lobang 
Bukan disepatu atau pakainnya
Tapi ada lobang di hatinya 
Wajah lelahnya dipenuhi guratan 
Guratan pengorbanan atas nama impian 
Walau para binatang mencibirnya 
Tak sedikitpun ada kata menyerah 

Tapi kini dia terdiam dalam hening 
Tersandung kerikil yang menjatuhkannya 
Saat uang berbicara,semangatpun tak cukup untuk sebuah impian 
Menyalahkan diri atau nasib bukanlah jalan baginya 
Berusaha mungkin lebih baik,agar tak ada penyesalan

Kamis, 16 Januari 2014

Malaikat Tak Bersayap

Kutatap mata mereka yang berbinar

Sejuta kata tak mampu bercerita

Kasihmu…sayangmu…

selalu kau berikan padaku…

kau peras keringatmu…

Entah itu malam ataupun siang

tak peduli sang mentari membakar tubuh mu

tak peduli lumpur dan peluh membasahi tubuhmu

Kini kulitmu usang sudah

Badan yang dulu tegap kekar Kini mulai membungkuk...

Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih...

Tapi tak sedikitpun guritan lelah diwajahmu

Mereka cahaya hidupku

Mereka penolong dalam susahku

Dan mereka malaikat tak bersayap

Ya...Dia AYAH dan IBUku

ku tulis petuahmu dihatiku

Dengan tinta cahaya

Agar hati dan jiwa ini menderang

Ketika kegelapan dunia akan melahap

Waktu ini terus berjalan

Meski perlahan tapi pasti

Meninggalkan sebuah kisah yang pantas dikenang

Mencari Yang Terlupakan

Saat pagi menyongsong
Sang mentari memancarkan sinar kehidupan

Burung-burung bernyanyi dengan begitu indah

Aku yang terbangun dari tidur yang panjang,

Perlahan mebuka mata,

kupandangi sudut-sudut kamar dengan tatapan kosong
                        Aku terbujur dalam kekakuan,

Dengan hati terbelenggu dalam sepi...

Sudah banyak hari kulalui tanpa tujuan yang pasti

Semua  seakan hanyalah fatamorgana

Acap kali kumencari sebuah jawaban

Jawaban atas arti dari kehidupan ini

Yang kutemui hanyalah kekosongan

Dalam pencarianku...

Perlahan-lahan rasio menjauh, akalpun pergi tanpa pesan

Aku terdiam dalam ketakutan

Ketakuatan akan tersesat di negeri itu

Negeri dengan sejuta paradigma!!!

Aku kumpulkan kepingan  derita di setiap pencarianku

Kugenggam dan kurangkai menjadi harapan  yang sempat terkoyak

Oleh tajamnya duri kehidupan



Saat mentari mulai tenggelam, Sayap malam terbuka perlahan

Fikirku melayang menjelajah ruang dan waktu

Mencari yang terlupakan

Yang mendekap jiwa dan ragaku

Yang membimbingku meresapi sunyinya malam

Yang menuntunku memeluk kegelapan didalam mencari arti kehidupan

Hidup atau Mati

Sejenak kuterdiam dalam kepengapan hidup
Kubaringkan tubuhku diatas ilalang yang bergoyang

Semilir angin berhembus menerpaku

Menjama tubuhku yang berpeluh

Tak bertenaga...

Kenangan itu muncul dan menjabatku

Kusibak tirai harapku secara perlahan

Yang terlihat hanyalah kegagalan

Inikah waktunya menyerah,pikirku...

Sebatas Mimpi

Senyummu begitu indah saat itu
Lalu Kita berlari dihamparan pasir putih

Malam semakin larut,

Kita berdansa ditemani api unggun

Yang jemari-jemari lentikmu begitu nakal menggodaku

Dan gemuru ombak menjadi music pengiringnya

Oh...Senangnya hati ini saat bersamamu

Kuingin trus ada disampingmu

Menghabiskan seluruh sisa hidupku denganmu

Tapi kuterbangun dari tidur,

Semua hal indah tentang kita pun sirna

Ternyata ini hanya mimpi

Tentang aku dan kamu yang kucintai

Kuingin Terbang Bebas

Semua yang kubutuhkan adalah kebebasan...
Ada sangat banyak yang sepertiku...
Aku tidak sendiri...
Berjalan dalam mimpi,dengan penuh keheranan...
Melangkah dan tersandung
Aku tak merasa ragu,

ini hanya seperti matahari akan bersinar kembali...
Sekali duniaku menampakkan,,,

akan mengejutkan semua orang
Bukalah mata, lihat bagaimana aku berlari,

bagaimana aku berputar ke sisi yg lain...
Aku akan meluncur seperti burung...
Aku hanya ingin memiliki ribuan sayap untuk terbang,

Agar kulihat  luasnya langit dan menemukan DUNIAKU...

Terbanglah Bidadariku


Bidadariku...
Sejuta harapan kusemayangkan untukmu
Beribu cita kugantungkan karnamu...
Apa dirimu tak mengerti bagaimana perasaan ini padamu
Kusangka dirimulah yang mungkin akan menjadi pendampingmu kelak
Tapi semua tetap menjadi misteri bagiku...
Kugadaikan harga diriku,,,perasaanku,,,hanya untuk mendengar kata cinta darimu
Sekian lama kumenanti hati inipun lelah...
Hanya rasa sakit yang kudapat dari penantian itu...
Rasa sakit karna berharap padamu...
Rasa sakit karna merindumu...
Kulelah menanti jawaban darimu...
Karna hanya sinaran lampu orange yang kudapat...

kutak perna ingin melukaimu...

Namu sebaliknya hanya aku yang selalu terluka...
Kini harapanku,,,cintaku,,,perasaanku telah kututup dalam peti hatiku
agar tak kudapati kembali rasa sakit itu....
rasa sakit yang berkecamuk...

Bidadariku...
kepakkanlah sayapmu...
terbanglah...dan susuri alam semesta...
temukanlah CINTA yang kau dambakan...
kuikhlaskan kepergianmu...
Bahagiamu Bahagiaku...

Kurindu Engkau Ya Rasulullah

Ya Rasulullah Ya Habibullah
          Kerinduanku atasmu senantiasa membara
          Begitu dahsyatnya kehadiranmu direlung hati kami
          Diseluruh penjuru mata angin
          Perjuanganmu terus dibicarakan
Ya Rasulullah Ya habibullah
          Nafasku terseka dalam tangis
          Kala rinduku memuncak...
    Hanya dendangan sholawat yang menenangkanku
Ya Rasulullah Ya habibullah
     Ketika diri bersholawat diatas sajadah,
     Aku tersungkur di Mihrab rindu
     Mengingat Perjuanganmu, Ibarat Ranjau bertahta duri yang 
     mencengkram
Ya Rasulullah Ya habibullah
    Aku berdiri memandangi langit tanpa awan
    Kerinduan padamu semakin merasuk direlung hati ini
    Walau tak perna berjumpa
    Namun dihatiku, Engkau begitu dekat
    Karena engkau hidup dihati setiap orang mukmin
Ya Rasulullah Ya habibullah
    Bergetar hati ini, rindu berjumpa denganmu
    Ahlakmu yang begitu indah
    Ahlakmu yang begitu suci
    Hadirmu membawa cahaya dalam kegelapan
    Dirimu teladan setiap ummat
    Wahai Engkau Rasulullah

Derita Yang Tak Akan Mereka Mengerti


Kala pagi menyongsong...   
Kubuka mata...  
Dan perut ini seakan mengerti,saatnya mencari sesuap nasi dijalanan kota... 
Berjalan tertati menampakkan guritan deritaku... 


Bau peluh menjadi parfum... 

Hardikan,hinaan tak kuhirau...

Apakah miskin itu mau kami??? 
Apakah miskin itu salah kami???
Entalah...

Dibawah Terik mentari yang menyapa... 
Kuterdiam dan merenung... 
Serasa ingin lari dari kenyataan... 
Kumenoleh ke gedung-gedung itu, Tampak mereka begitu nyaman... 
Tak kepanasan !!!
Tak kehujanan !!!

Hidup dari sampah...
Yang mungkin tak berarti bagi mereka, tapi bagi kami berarti banyak
Aku hanyalah anak jalanan
Aku adalah debu jalanan yang terbang terbawa angin 
Yang tak tahu akan kemana

Dikala malam datang
Langit menjadi atap kami, 
Dan emperan toko menjadi dipan yang empuk ...
Tubuh-tubuh yang lelah, 
Bercinta dengan sepi... 
berselimutkan angin malam...

Kusyukuri apa yang ada 
Mungkin beras didunia tak mengenyangkanku,
tapi beras syurga akan kunikmati... 
Derita ini mengajariku arti hidup yang mereka tak mengerti...

Angin, Hujan Dan Matahari

Angin sedang bermain-main
Dengan penuh semangat mereka berlarian
Berkejaran kesana-kesini
Menabrak apa yang dihadapannya

Ahh...Hujanpun tak ingin kalah dengan si angin
Bersama petir,Mereka bercanda gurau di atapbumi
Tawa mereka menggelegar
Memecah keheningan semesta
Sejenak kuterdiam...
Serasa ada yang kurang dihari ini

Hmm...
Matahari kau dimana???
Mungkinkah kau dikucilkan angin dan hujan???
Hingga kau tak muncul hari ini

Rasa hangat seakan menghilang
Meninggalkan keresahan
Resah akan tubuh ini yang perlahan membeku
Menahan dinginnya hari
Yang bahkan kulewati tanpa sentuhan-sentuhan hangat wanita

Matahari!!!
Kini aku bercumbu dengan dingin
Ia mendekapku erat
Seakan tak ingin melepasku

Ratapan Merpati Putih

Merpati putih terbang bak penari

Menari indah diluasnya angkasa

Tak peduli sejauh mana dia terbang,

Tapi tetap kembali kesarangnya

Merpati putih adalah lambang kesetiaan
Tapi kini ia terluka di hadapan gagak yang licik

Merpati putih selalu saja teraniaya...

Karena dia tak punya cakar yang tajam seperti elang

Karena dia tak punya kaki seperti cendrawasi

Dan karna dia tak punya paruh seperti rajawali

Merpati putih hanya memiliki kesetiaan dan cinta
Kini dia terluka dan terjatuh terhuyung

Tertunduk lemah dan memekik parau

Memecah kesunyian senja

Hingga merpati putih menggelepar dan meregang nyawa

Meninggalkan dunia yang fana ini