Kamis, 16 Januari 2014

Derita Yang Tak Akan Mereka Mengerti


Kala pagi menyongsong...   
Kubuka mata...  
Dan perut ini seakan mengerti,saatnya mencari sesuap nasi dijalanan kota... 
Berjalan tertati menampakkan guritan deritaku... 


Bau peluh menjadi parfum... 

Hardikan,hinaan tak kuhirau...

Apakah miskin itu mau kami??? 
Apakah miskin itu salah kami???
Entalah...

Dibawah Terik mentari yang menyapa... 
Kuterdiam dan merenung... 
Serasa ingin lari dari kenyataan... 
Kumenoleh ke gedung-gedung itu, Tampak mereka begitu nyaman... 
Tak kepanasan !!!
Tak kehujanan !!!

Hidup dari sampah...
Yang mungkin tak berarti bagi mereka, tapi bagi kami berarti banyak
Aku hanyalah anak jalanan
Aku adalah debu jalanan yang terbang terbawa angin 
Yang tak tahu akan kemana

Dikala malam datang
Langit menjadi atap kami, 
Dan emperan toko menjadi dipan yang empuk ...
Tubuh-tubuh yang lelah, 
Bercinta dengan sepi... 
berselimutkan angin malam...

Kusyukuri apa yang ada 
Mungkin beras didunia tak mengenyangkanku,
tapi beras syurga akan kunikmati... 
Derita ini mengajariku arti hidup yang mereka tak mengerti...

Angin, Hujan Dan Matahari

Angin sedang bermain-main
Dengan penuh semangat mereka berlarian
Berkejaran kesana-kesini
Menabrak apa yang dihadapannya

Ahh...Hujanpun tak ingin kalah dengan si angin
Bersama petir,Mereka bercanda gurau di atapbumi
Tawa mereka menggelegar
Memecah keheningan semesta
Sejenak kuterdiam...
Serasa ada yang kurang dihari ini

Hmm...
Matahari kau dimana???
Mungkinkah kau dikucilkan angin dan hujan???
Hingga kau tak muncul hari ini

Rasa hangat seakan menghilang
Meninggalkan keresahan
Resah akan tubuh ini yang perlahan membeku
Menahan dinginnya hari
Yang bahkan kulewati tanpa sentuhan-sentuhan hangat wanita

Matahari!!!
Kini aku bercumbu dengan dingin
Ia mendekapku erat
Seakan tak ingin melepasku

Ratapan Merpati Putih

Merpati putih terbang bak penari

Menari indah diluasnya angkasa

Tak peduli sejauh mana dia terbang,

Tapi tetap kembali kesarangnya

Merpati putih adalah lambang kesetiaan
Tapi kini ia terluka di hadapan gagak yang licik

Merpati putih selalu saja teraniaya...

Karena dia tak punya cakar yang tajam seperti elang

Karena dia tak punya kaki seperti cendrawasi

Dan karna dia tak punya paruh seperti rajawali

Merpati putih hanya memiliki kesetiaan dan cinta
Kini dia terluka dan terjatuh terhuyung

Tertunduk lemah dan memekik parau

Memecah kesunyian senja

Hingga merpati putih menggelepar dan meregang nyawa

Meninggalkan dunia yang fana ini