Senin, 16 Juni 2014

Perang Proposal

Dengan langkah lunglai Hamdan coba menyusun setiap lembaran ingatan tentang kekasihnya, hingga terangkailah kisah masa lalunya. Dia menggerutu untuk setiap penyesalannya tentang titian yang dijalaninya. Hingga dia terlelap diperaduan pulau kapuk.
                Saat sang fajar mulai menampakkan diri dan ayam mulai menggonggong(anjing kali mengonggong hehehe). Hamdan bangun dan mulai menyiapkan dokumen dan proposal penelitiannya. Ya...dia akan ujian proposal dikampusnya. Dengan rasa cemas yang menghinggapinya sungguh Nampak dari wajahnya yang pucat (mirip vampire) seolah-olah dia akan menghadapi eksekusi hukum mati. Bukan karena tanpa sebab, tapi dari cerita seniornya yang telah selesai. Pengujinya itu sangatlah ganas, punya hawa pembunuh, sering makan korban (Nah loh...sadis bangetkan). Ya sesampainya dikampus dia mencoba menenangkan diri, tapi sialnya bukannya tenang malah semakin was-was karena ulah dari kawan-kawannya yang super jahil. Sambil menanti giliran ujian, hamdan mulai membaca semua doa-doa(macam dukun beranak lagi bantu persalinan hehehehe) biar pengujinya gak banyak tanya saat ujian.
                Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, Yah...tiba giliran hamdan untuk memaparkan usulan proposalnya. Dengan canggung dan bermodal espresi lugunya (wajah alay sahabat dahsyat) dia membaca setiap slide yang dia tampilkan. Seusai memaparkan, hamdan duduk dengan tegang (ettss...Cuma mimiknya loh ya yang tegang, jangan pikir macem-macem) menanti koreksi dari pengujianya.
                ‘’ Hamdan, alasanmu meneliti judul ini dan memilih tempat ini untuk meneliti apa?’’ ucap pembimbingnya dengan tatapan penuh dendam dan dibumbui sedikit senyum liciknya.
                Hamdan menarik nafas dalam dan menghembusnya...Huuuuffffff. Dan mulai menjawab dengan gaya sok Cool  ‘’Jadi menurut buku metodologi yang ditulis oleh sugiyono, bahwa peneliti harus memperhatika..bla...bla..bla...Begitu pak’’
                ‘’ya...lumayan (seakan mempersiapkan serangan yang lebih kuat untuk selanjutnya). Ok, di bagian kerangka konsep bapak liat ada variabel pembanding, jika judulmu seperti ini mestinya tak menggunakan variable ini. Coba jelaskan alasanmu menggunakan variable ini?’’
                Mendapat pertanyaan itu, hamdan seolah dilempari Bom dari pengujinya. Saat itu hamdan merasa terdesak (Seperti lagi perang ya). Dia tunduk dan diam untuk sesaat. Sementara dosen penguji tertawa bagaikan penjahat yang hamper memenangkan perang.
                Tiba-tiba disaat hamdan mulai hampir menyerah, muncul pasukan tambahan dengan membawa Tank. Dia mendongak dan melihat dosen pembimbingnyalah yang datang. Saat itu dosen pembimbing hamdan mulai menjelaskan dan meluruskan pertanyaan dari dosen penguji.
                Hamdan terbangun dari keterpurukannya (Padahal Cuma gak bisa jawab 1 pertanyaan doing -_-) dia mulai menjawab pertanyaan itu ‘’ jadi pak, suatu penelitian dalam bentuk eksperimen murni mesti menggunakan variabel kontrol sehingga jelas perbedaan dari bla..bla...bla’’. setelah menjawab pertanyaan itu hamdan serasa sedang klimaks (menjijikkan -_-)
                Berbeda dengan kondisi dosen pengujinya yang seolah mendapat serangan jantung. Dengan bantuan dosen pembimbingnya dia menyeimbangkan keadaan bahkan hampir membalikkan.
                Tok...tok...tok...Dosen lain masuk dan memberitaukan bahwa waktunya hampir habis. Mendengar itu moderator menutup perang, eh maksudnya ujian itu. Hamdan bersorak riang di dalam hatinya. Tapi dosen pengujinya menatap penuh kesal. Saat hamdan dan pengujinya berpapasan didekat pintu keluar ruangan, pengujinya berkata ‘’Ini belum berakhir, tunggu seranganku yang lebih dahsyat lagi’’(Ini entah ujian atau perang sesungguhnya ya -_-)...
Bersambung ...

Jumat, 13 Juni 2014

Trans Studio








Belajar Dari Kebersamaan










SAYONARA

Api itu kini padam
Pintu yang selama ini terbuka,
Kini tertutup rapat
Tak ada yang tersisa
Hanya kehampaan
Tak ada lagi keindahan
Senyumpun terasa sulit
Akhir yang tragis dari sebuah cerita roman
Keceriaan hari-hariku kini tenggelam di ufuk senja
Pergilah...
Masukilah ruang yang kau harap
Dan berbahagialah disana

Minggu, 26 Januari 2014

Bersama Dalam Ketiadaan

Malam ini 
Satu per satu hujan jatuh membasahi bumi 
Hingga tak lagi kumelihat bulanku 
Entah bagaimana kabarnya malam ini 
Ku ditinggalkannya sendiri dalam sepi... 

Mengapa semua pergi meninggalkanku??? 
Tak terkecuali engkau, 
Yang meninggalkanku dalam harap 
Semua ini serasa membunuhku 
 Kau hancurkan istana cinta yang susah paya kita bangun 
Kau meninggalkanku begitu saja 
Masi kuingat janji yang dulu kita ikrarkan, 
 "Bersama Dalam Ketiadaan" 

Sungguh,,, 
Dulu ku tak ingin menangis karena wanita 
Dulu air mata ini sungguh berharga 
Tapi mengapa saat kuingat kepergianmu, 
Air mata ini menetes berderai 

Begitu perih mencintaimu 
Begitu sakit kumenyayangimu 
Tapi kutak bisa membunuh rasa ini 
Kucoba menepis semua bayangmu 
Namun ku tak perna bisa melekukannya 
Karna kau begitu istimewa di hatiku 
Kuhanya berharap sang waktu yang akan melahap habis kenangan kita 
Agar tak sekeping pun tersisah 
Walau itu berarti seumur hidupku

Jumat, 24 Januari 2014

Jangan Berhenti Berharap

Saat pagi menyapaku

Semilir angin pagi menerpaku

Menciptakan sensasi yang erotis 

Serasa tak ingin pergi dari peraduan 

Namun dunia telah menantiku

Berjuta mahluk berjiwa dan tak berperasaan sibuk mencariku 

Lelah rasanya,,,, 

Mengeluh pun serasa tak berguna

Ketika dihadapan gerbang pengharapan

Langkah yang awalnya serasa berat

Kini mulai ringan      

Seakan kumencapai klimaks

Semua nampak nikmat, 

Tapi untuk sesaat saja

Absudnya Kehidupan

Menyusuri seluk beluk kehidupan
Berjuta keanehanpun muncul
Seperti menggenggam bara api
Begitulah yang kurasa

Eksistensi kehidupan semakin tak kumengerti
Kesana kemari hanya membuat pusing

Di dimensi yang sama ada rasa
Di dimensi berbeda pun ada rasa

Hanya moralitas yang membuat semua terbatas
Menjama waktu ke waktu
Kehidupan semakin gila
Moral pun semakin tergerus zaman

Diatas dipan ku tersungkur
Memejamkan mata,berharap hanya mimpi
Bahwa dunia semakin absurd